
Arsamedia.com | Konawe –
Malam penutupan kegiatan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Konawe berlangsung semarak dan penuh makna budaya. Salah satu penampilan yang paling menyita perhatian publik adalah pertunjukan seni musik bambu yang dibawakan oleh siswa-siswi SDN 3 Sendang Mulyasari, Kecamatan Tongauna, Kabupaten Konawe.
Dengan irama yang padu dan penuh semangat, para siswa sukses memukau para tamu undangan, guru, serta masyarakat yang hadir. Penampilan tersebut semakin istimewa karena berada di bawah bimbingan Supersemar Sapalulu, SE., MM, seorang maestro sekaligus pelatih dari Sanggar Seni Musik Bambu Sapalulu, yang dikenal aktif dalam pelestarian seni musik bambu di Konawe.
Keunikan lain dari penampilan ini terletak pada latar belakang para siswa. Seluruh penampil merupakan 100 persen bersuku Bali, namun mereka justru tampil membawakan kesenian musik bambu khas budaya lokal Kabupaten Konawe, khususnya yang berkaitan dengan budaya Suku Tolaki. Hal ini menjadi simbol kuat bahwa keberagaman budaya mampu berjalan seiring dengan upaya pelestarian kearifan lokal.
Supersemar Sapalulu menjelaskan bahwa seni musik bambu bukan sekadar hiburan, melainkan sarana pendidikan karakter dan identitas budaya bagi generasi muda. Melalui musik bambu, anak-anak diajarkan tentang kebersamaan, disiplin, serta rasa cinta terhadap budaya daerah tempat mereka tumbuh dan berkembang.
“Walaupun anak-anak ini berasal dari latar belakang budaya Bali, mereka memiliki semangat luar biasa untuk mempelajari dan melestarikan budaya lokal Konawe. Ini adalah contoh nyata toleransi dan kecintaan terhadap budaya daerah,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Supersemar menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam mendukung pelestarian seni musik bambu secara berkelanjutan. Menurutnya, dukungan tersebut harus dilakukan secara aktif dan masif, mulai dari penyediaan pelatih, alat musik bambu, hingga memasukkan seni musik bambu sebagai bagian dari kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.
Ia berharap ke depan seni musik bambu dapat dikembangkan secara merata di seluruh jenjang pendidikan, baik Sekolah Dasar (SD) maupun Sekolah Menengah Pertama (SMP) di seluruh wilayah Kabupaten Konawe.
“Jika pemerintah daerah memberikan dukungan penuh, saya yakin seni musik bambu bisa berkembang lebih luas dan menjadi identitas budaya yang dibanggakan oleh masyarakat Konawe,” tambahnya.
Penampilan SDN 3 Sendang Mulyasari pada malam penutupan PGRI ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga pesan kuat tentang pentingnya pelestarian budaya lokal melalui dunia pendidikan. Acara tersebut menjadi momentum bahwa sekolah dapat menjadi garda terdepan dalam menjaga warisan budaya daerah, sekaligus menanamkan nilai kebhinekaan sejak usia dini.
Laporan : Arsam

Tidak ada komentar