
Arsamedia.com, Konawe –
Rapat koordinasi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Puriala menjadi langkah awal yang penting dalam memastikan kesiapan seluruh pihak sebelum program ini dijalankan secara penuh.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang sosialisasi, tetapi juga ruang diskusi terbuka antara pemerintah, penyedia dapur, tenaga kesehatan, serta unsur pendidikan dan pemerintahan desa.
Camat Puriala, Jasmin, SE, kembali menegaskan komitmen pemerintah kecamatan dalam mendukung penuh pelaksanaan program MBG. Ia berharap kehadiran dapur MBG dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan gizi masyarakat, khususnya bagi anak-anak sekolah yang menjadi sasaran utama program.
“Ini adalah program strategis yang harus kita kawal bersama. Sinergi semua pihak sangat dibutuhkan agar pelaksanaannya berjalan lancar dan tepat sasaran,” ujarnya.
Perwakilan penyedia dapur dari Insan Indonesia Emas, Agus Fiatna, menjelaskan bahwa saat ini pihaknya tengah mematangkan berbagai persiapan teknis, mulai dari perekrutan tenaga kerja, penyediaan sarana dapur, hingga sistem distribusi makanan. Ia menekankan bahwa seluruh proses akan dilakukan secara transparan dan profesional.
Selain itu, tingginya jumlah calon penerima manfaat yang mencapai lebih dari 2.000 orang di Kecamatan Puriala membuka peluang besar untuk pengembangan dua unit dapur MBG. Hal ini dinilai penting guna memastikan distribusi makanan dapat dilakukan secara efisien dan menjangkau seluruh sasaran.
Dari sektor pendidikan, para kepala sekolah berharap agar kualitas makanan yang disajikan benar-benar memenuhi standar gizi serta kebersihan.
Mereka juga menyoroti pentingnya ketepatan waktu dalam pendistribusian makanan agar tidak mengganggu proses belajar mengajar di sekolah.
Sementara itu, dukungan dari pemerintah desa juga menjadi perhatian penting dalam rapat tersebut. Kepala Desa Tetewatu, Ramang Liambo, menyampaikan bahwa pihak desa siap berkontribusi dalam penyediaan bahan pangan lokal. Ia menilai, pelibatan potensi desa tidak hanya memperkuat keberlanjutan program, tetapi juga mampu meningkatkan perekonomian masyarakat.
“Jika bahan baku diambil dari desa, maka perputaran ekonomi akan terjadi di tingkat lokal. Ini menjadi peluang besar bagi petani dan pelaku usaha di Puriala,” jelasnya.
Di sisi lain, aspek kesehatan menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan program ini. Perwakilan Puskesmas Puriala, Arisman, mengingatkan bahwa seluruh tenaga kerja yang terlibat wajib memenuhi standar kesehatan, termasuk kepemilikan Surat Keterangan Berbadan Sehat (SKBS). Hal ini penting untuk mencegah potensi penyebaran penyakit, terutama di wilayah yang memiliki risiko seperti TBC.
Dengan adanya kolaborasi lintas sektor ini, program MBG di Kecamatan Puriala diharapkan tidak hanya menjadi solusi pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga mampu membuka lapangan kerja baru, memberdayakan potensi lokal, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya pola hidup sehat.
Ke depan, pemerintah kecamatan bersama seluruh pemangku kepentingan akan terus melakukan pengawasan dan evaluasi secara berkala guna memastikan program ini berjalan optimal dan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat Puriala.
Laporan :Arsamedia.

Tidak ada komentar