Musim Kemarau Melanda, Kelompok Tani Mepokoaso Wunduhaka Tetap Giat Bersawah

waktu baca 4 menit
Kamis, 10 Sep 2026 11:38 0 25 Admin

ARSAMEDIA.COM, KONAWE UTARA— Musim kemarau yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir tidak menyurutkan semangat para petani di Desa Wunduhaka, Kecamatan Asera, Kabupaten Konawe Utara, untuk tetap mengelola lahan persawahan.

Di tengah keterbatasan sumber air, para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Mepokoaso tetap berupaya mempertahankan aktivitas budidaya tanaman padi sawah. Berbagai langkah antisipatif dilakukan agar lahan pertanian tetap mendapatkan pasokan air yang cukup, salah satunya dengan memperbaiki dan membersihkan saluran air yang menjadi jalur pengairan menuju areal persawahan.

Ketua Kelompok Tani Mepokoaso, Raden, mengatakan kondisi kemarau memang menjadi salah satu tantangan bagi petani, khususnya dalam memenuhi kebutuhan air tanaman padi. Namun, kondisi tersebut tidak menjadi alasan bagi kelompok tani untuk menghentikan kegiatan bercocok tanam.

Menurutnya, hamparan persawahan di Desa Wunduhaka hingga saat ini masih banyak mengandalkan sistem tadah hujan. Ketersediaan air biasanya cukup melimpah ketika musim penghujan tiba, sementara memasuki musim kemarau debit air semakin berkurang.

Kondisi tersebut membuat petani harus lebih cermat dalam menentukan waktu pengolahan lahan hingga penanaman.

“Petani harus memperhitungkan waktu pengolahan dan penanaman karena kita masih sangat bergantung pada kondisi air. Kalau waktunya tidak tepat, saat panen bisa berhadapan dengan kondisi air yang berlebihan atau bahkan kekurangan air,” ujar Raden saat ditemui awak media, Kamis (10/9/2026).

Selain persoalan ketersediaan air, keberadaan saluran irigasi juga menjadi perhatian kelompok tani. Sebagian saluran yang digunakan untuk mengairi persawahan belum permanen dan belum berfungsi secara maksimal.

Pada musim penghujan, kondisi tersebut juga dapat menjadi persoalan tersendiri karena debit air yang meningkat berpotensi menggenangi areal persawahan. Karena itu, menurut Raden, pembangunan dan perbaikan jaringan irigasi sangat dibutuhkan untuk mendukung keberlangsungan pertanian di wilayah tersebut.

Ia berharap ke depan pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap kondisi saluran irigasi di Desa Wunduhaka sehingga para petani dapat mengoptimalkan potensi lahan sawah yang tersedia.

“Harapan kami ke depan ada perbaikan saluran irigasi sehingga petani bisa lebih maksimal dalam mengembangkan padi sawah. Kalau pengairannya baik, pengolahan dan penanaman juga bisa dilakukan secara serentak,” katanya.

Menurutnya, pola tanam yang dilakukan secara serentak juga penting dalam membantu petani mengantisipasi serangan hama dan penyakit tanaman. Dengan waktu tanam yang lebih teratur dan serempak, pengendalian organisme pengganggu tanaman diharapkan dapat dilakukan secara lebih efektif.

Namun, kebutuhan kelompok tani tidak hanya sebatas pembangunan atau perbaikan saluran irigasi. Raden menyebutkan, alat dan mesin pertanian (Alsintan), khususnya pompa air, juga sangat dibutuhkan untuk membantu petani mengatasi keterbatasan sumber air selama musim kemarau.

Pompa air dinilai dapat menjadi salah satu solusi ketika debit air pada saluran mulai menurun. Dengan dukungan pompa, air yang masih tersedia di saluran dapat dialirkan menuju areal persawahan sehingga tanaman padi tetap memperoleh kebutuhan air.

“Bukan hanya sumber air dan saluran yang perlu diperbaiki. Kami juga sangat membutuhkan Alsintan berupa pompa air untuk membantu mengalirkan air dari saluran menuju areal persawahan,” ungkap Raden.

Ia menilai, keberadaan sarana dan prasarana pertanian yang memadai akan sangat menentukan produktivitas petani. Apabila pengairan dapat berjalan dengan baik, tanaman padi berpeluang tumbuh lebih optimal dan menghasilkan panen yang lebih maksimal.

Pada akhirnya, peningkatan produksi pertanian tidak hanya berdampak pada ketersediaan pangan, tetapi juga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat petani.

Raden berharap pengembangan potensi padi sawah di Desa Wunduhaka mendapat perhatian lebih dari pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Konawe Utara.

Menurutnya, pengembangan pertanian akan lebih maksimal apabila dilakukan melalui sistem yang terintegrasi, mulai dari penyediaan sarana produksi, pengairan, Alsintan, pendampingan budidaya hingga pengendalian hama dan penyakit tanaman.

Di sisi lain, peran penyuluh pertanian lapangan (PPL) juga dinilai sangat penting dalam memberikan pendampingan kepada kelompok tani. Kehadiran penyuluh di tengah petani diharapkan dapat membantu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk perubahan kondisi cuaca dan keterbatasan air.

Dengan dukungan pemerintah serta kerja sama antara kelompok tani, penyuluh dan pihak terkait, potensi lahan persawahan di Desa Wunduhaka diharapkan dapat terus dikembangkan.

Kelompok Tani Mepokoaso pun berkomitmen untuk tetap mempertahankan aktivitas pertanian meskipun menghadapi musim kemarau. Semangat tersebut menjadi bagian dari upaya masyarakat dalam menjaga produktivitas pertanian sekaligus mendukung program ketahanan pangan di Kabupaten Konawe Utara.

Bagi para petani, keterbatasan air bukan berarti harus berhenti bertani. Dengan perbaikan infrastruktur pertanian, dukungan Alsintan, pendampingan penyuluh dan kebijakan pemerintah yang berpihak kepada petani, lahan sawah di Desa Wunduhaka masih memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu penopang produksi pangan masyarakat.

Laporan : Dahlan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA