
Arsamedia.com, Konawe —
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Konawe terus mendorong peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah melalui penguatan kompetensi guru.
Salah satunya dilakukan melalui Pelatihan Pembelajaran Mendalam bagi guru jenjang SMP se-Kabupaten Konawe yang dilaksanakan selama dua hari, 6 – 7 September 2026.
Kegiatan tersebut diarahkan untuk membekali guru agar mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, sekaligus mendorong peserta didik tidak hanya memahami materi pelajaran, tetapi mampu menghubungkannya dengan kehidupan nyata.
Pelatihan ini merupakan bagian dari komitmen Dikbud Konawe dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia tenaga pendidik.
Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Konawe, Ahmad Djauhari, S.Pd., M.Pd., melalui Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), Asran Lasahari, S.Pd., MM., menyampaikan bahwa guru memiliki peran penting dalam membawa peserta didik memahami kehidupan di sekitarnya.
Dalam sambutannya, Asran menyampaikan pesan Kepala Dinas agar proses pembelajaran di sekolah tidak hanya berorientasi pada teori dan penggunaan teknologi, tetapi juga memberikan pengalaman nyata kepada peserta didik.
“Guru membawa anak ke dunia nyata. Bukan lagi anak diajar bermimpi, bukan lagi anak hanya diajar melalui HP, tetapi bagaimana pembelajaran itu bisa membawa mereka pada pengalaman nyata,” ujarnya.
Menurut Asran, perkembangan teknologi memang menjadi bagian penting dalam dunia pendidikan. Namun, teknologi harus ditempatkan sebagai sarana pendukung pembelajaran, bukan menggantikan pengalaman belajar yang nyata.
Karena itu, guru dituntut mampu menciptakan proses pembelajaran yang membuat peserta didik aktif berpikir, berkomunikasi, bekerja sama, memecahkan persoalan, serta memahami manfaat dari apa yang mereka pelajari.
Asran berharap pelatihan tersebut tidak hanya menjadi kegiatan seremonial atau sekadar menghasilkan sertifikat bagi peserta.
Ia menekankan pentingnya penerapan hasil pelatihan di sekolah masing-masing.
“Kita optimis kegiatan ini benar-benar bisa membawa ilmu yang kemudian diterapkan dalam proses pembelajaran,” lanjutnya.
Menurutnya, keberhasilan sebuah pelatihan dapat dilihat dari perubahan yang terjadi setelah guru kembali ke sekolah. Ilmu yang diperoleh harus mampu diterjemahkan menjadi praktik pembelajaran yang lebih baik di dalam kelas.
Dengan demikian, manfaat kegiatan tidak hanya dirasakan oleh guru, tetapi juga secara langsung oleh peserta didik.
Selain membahas peningkatan kompetensi pembelajaran, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk mengingatkan guru mengenai pentingnya perlindungan peserta didik serta etika dalam menjalankan tugas.
Asran menyampaikan bahwa persoalan bullying atau perundungan dapat terjadi dalam lingkungan pendidikan dan tidak hanya berkaitan dengan hubungan antarsiswa.
Guru juga diharapkan mampu menjaga profesionalitas dalam berinteraksi dengan peserta didik serta memahami batas-batas yang harus dijaga dalam proses pendidikan.
“Arahan Pak Kadis, guru jangan menyentuh siswa,” tegas Asran.
Pesan tersebut disampaikan sebagai bagian dari upaya membangun lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan saling menghargai.
Guru diharapkan menjadi sosok yang memberikan rasa aman kepada peserta didik sekaligus mampu menjalankan tugas pendidikan dengan penuh tanggung jawab.
Dalam laporan panitia, dijelaskan bahwa pembelajaran mendalam bukan sekadar upaya menambah pengetahuan guru.
Konsep tersebut diarahkan untuk menghadirkan perubahan dalam proses pembelajaran, sehingga peserta didik tidak hanya menghafal materi, tetapi mampu memahami, menerapkan, berpikir kritis, bekerja sama, berkomunikasi, dan menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari.
“Keberhasilan pendidikan bukan hanya tentang nilai yang tertulis di atas kertas, tetapi tentang anak seperti apa yang tumbuh dari proses pendidikan kita,” demikian pesan dalam laporan panitia.
Karena itu, guru diharapkan semakin banyak memberikan ruang kepada peserta didik untuk bertanya, berdiskusi, menyampaikan pendapat, mencoba, dan belajar dari pengalaman.
Pembelajaran juga diharapkan lebih dekat dengan realitas kehidupan siswa sehingga materi yang diberikan tidak terasa jauh dari kehidupan mereka.
Panitia menegaskan, keberhasilan kegiatan tidak ditentukan dari selesainya pelatihan maupun sertifikat yang diterima peserta.
Hal yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan diterapkan ketika guru kembali ke sekolah.
Guru diharapkan mampu melakukan perubahan, meskipun dimulai dari langkah sederhana di ruang kelas.
“Jangan pulang hanya membawa materi. Pulanglah membawa semangat dan satu tekad untuk membuat perubahan di kelas masing-masing.”
Kegiatan tersebut diikuti guru-guru perwakilan dari setiap sekolah SMP se-Kabupaten Konawe.
Turut hadir Kepala Seksi Evaluasi dan Pelaporan Hj. Nurjaya, S.E., MM., Kepala Seksi Analis Kebijakan Saida Tondrang, S.Sos., serta staf GTK Haldy Ali Syukur, S.Pd., MM.
Sementara narasumber dalam pelatihan tersebut adalah Runi, S.Pd., M.Pd. dan Anita Wahyuni, S.Pd., M.Pd.
Dikbud Konawe berharap pelatihan tersebut menjadi salah satu langkah untuk terus meningkatkan kompetensi dan profesionalitas guru di Kabupaten Konawe.
Peningkatan mutu pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab guru. Dibutuhkan keterlibatan kepala sekolah, pengawas, orang tua, pemerintah daerah, serta seluruh pihak terkait untuk membangun ekosistem pendidikan yang mampu memberikan ruang tumbuh terbaik bagi peserta didik.
Semangat tersebut sejalan dengan nilai Konawe Bersahaja, yakni bekerja dengan tulus, melayani dengan hati, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Melalui perubahan kecil yang dilakukan guru di ruang kelas, diharapkan dapat tercipta perubahan yang lebih besar dalam kualitas pendidikan sekaligus mempersiapkan generasi muda Konawe yang mampu menghadapi tantangan masa depan.
Laporan : Arsamedia

Tidak ada komentar