Puluhan Siswa SMAN 1 Tongauna Diduga Keracunan MBG, KNPI Konawe Desak Evaluasi dan Pengusutan

waktu baca 3 menit
Kamis, 24 Sep 2026 07:47 0 85 Admin

Arsamedia.com Konawe– Puluhan siswa SMA Negeri 1 Tongauna, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sejumlah siswa bahkan harus mendapatkan perawatan medis di rumah sakit. Peristiwa tersebut mendapat perhatian dari Dewan Pengurus Daerah (DPD) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Konawe.

Ketua DPD KNPI Konawe, Ian Saputra, menyampaikan keprihatinannya atas kejadian yang dialami para pelajar tersebut. Ia menegaskan bahwa aspek keselamatan dan kesehatan siswa harus menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan program MBG.

Menurut Ian, program MBG pada dasarnya merupakan program yang bertujuan memenuhi kebutuhan gizi peserta didik. Karena itu, makanan yang diberikan kepada siswa harus memenuhi standar keamanan, kebersihan, kualitas bahan pangan, serta proses pengolahan dan distribusi yang sesuai ketentuan.

“Kami sangat prihatin dengan kejadian ini. Program Makan Bergizi Gratis seharusnya memberikan manfaat bagi para siswa dalam pemenuhan gizi, bukan justru menimbulkan persoalan kesehatan,” ujar Ian.

Menyikapi kejadian tersebut, KNPI Konawe mendesak pemerintah daerah bersama instansi teknis terkait untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan MBG di SMAN 1 Tongauna, termasuk pihak ketiga atau penyedia makanan yang terlibat.

KNPI juga meminta agar standar operasional prosedur (SOP), mulai dari pemilihan bahan pangan, proses memasak, pengemasan, penyimpanan hingga pendistribusian makanan kepada siswa, diperiksa secara menyeluruh.

Selain evaluasi, KNPI Konawe mendorong dilakukan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang dikonsumsi para siswa. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengetahui secara ilmiah penyebab gangguan kesehatan yang dialami para pelajar.

“Penyebabnya harus dipastikan melalui pemeriksaan dan uji laboratorium. Jangan sampai persoalan ini hanya berhenti pada dugaan tanpa ada kejelasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi,” tegas Ian.

KNPI Konawe juga meminta Dinas Kesehatan dan instansi terkait melakukan penanganan serta investigasi kesehatan secara menyeluruh terhadap para siswa yang terdampak.

Bagi siswa yang masih menjalani perawatan, KNPI meminta agar mendapatkan pelayanan medis secara optimal dan memastikan tidak ada korban yang mengalami keterlambatan penanganan.

Lebih jauh, KNPI Konawe meminta pemerintah mempertimbangkan penghentian sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau penyedia MBG yang terkait dengan kejadian tersebut, sampai proses evaluasi dan pemeriksaan terhadap standar keamanan pangan selesai dilakukan.

Langkah tersebut, menurut KNPI, diperlukan sebagai bentuk kehati-hatian untuk mencegah munculnya korban baru sebelum penyebab kejadian benar-benar diketahui.

Namun demikian, KNPI Konawe menekankan bahwa proses pemeriksaan harus dilakukan secara objektif dan berdasarkan hasil investigasi serta bukti ilmiah, sehingga tidak terjadi kesimpulan sepihak terhadap pihak tertentu.

“Kami meminta semua pihak bertanggung jawab dan transparan. Yang paling penting sekarang adalah keselamatan para siswa, kemudian penyebab kejadian harus diungkap secara terang melalui proses pemeriksaan yang benar,” kata Ian.

KNPI Konawe menyatakan akan terus mengawal perkembangan kasus tersebut dan mendorong agar hasil pemeriksaan nantinya disampaikan secara terbuka kepada publik.

Ian berharap kejadian ini menjadi bahan evaluasi serius bagi seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program MBG, khususnya dalam memastikan makanan yang diberikan kepada peserta didik benar-benar aman, layak konsumsi dan memenuhi standar kesehatan.

“Jangan sampai kejadian seperti ini kembali terjadi di sekolah lain. Keselamatan anak-anak kita harus menjadi prioritas,” pungkasnya.

Laporan: Redaksi

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA